Telah Tersedia Space Iklan Text Marque ! Segera Pasang Iklan Anda ! SPACE PASANG IKLAN
SPACE PASANG IKLAN
SPACE PASANG IKLAN
SPACE PASANG IKLAN
Buruan Mumpung masih tersedia slotnya !!
Makna Perayaan malam Tahun Baru, (Update) ~ Sejuknya Embun

Jumat, 14 Desember 2012

Makna Perayaan malam Tahun Baru, (Update)

Makna Perayaan malam Tahun Baru, (Update) - Umat Islam di seluruh penjuru dunia hari ini memperingati datangnya tahun baru Hijriah dengan berbagai macam bentuk kegiatan ibadah.


Tahun baru Hijriah memiliki makna tersendiri bagi umat Islam karena bertepatan dengan peristiwa besar yakni hijrahnya Nabi Muhammad dari Mekah ke Madinah.

Lalu apa makna hijrah itu sendiri bagi umat Islam serta dalam konteks kehidupan sosial politik dan kenegaraan?

Sekretaris PP Muhammadiyah Abdul Muti menjelaskan, ada dua makna penting yang bisa diambil manfaatnya oleh umat Islam dari peristiwa hijrah.

Pertama, makna spritual dalam kaitan bagaimana setiap umat Islam berusaha untuk terus-menerus melakukan perubahan-perubahan ke arah kehidupan yang lebih baik.

"Meninggalkan hal-hal yang selama ini tidak baik, kurang baik, kepada hal-hal yang sempurna, bermanfaat dalam kehidupan yang berkaitan dengan dengan diri sendiri," ungkapnya kepada Media Indonesia, Kamis (15/11).

Pada konteks yang pertama, kata Abdul, tentu saja secara pribadi umat Islam harus berubah menjadi pribadi-pribadi yang lebih baik, shalih, terutama dalam hubungannya dengan kesalihan-kesalihan spritual dan kesalihan-kesalihan sosial.

Makna kedua, yaitu hijrah dilihat dari sisi sosial politik.

Menurutnya, salah satu spirit dari hijrah itu adalah untuk membangun kehidupan dalam masyarakat yang multikultural, masyarakat yang majemuk, dan mengambil teladan bagaimana Rasulullah dan para sahabat membangun kehidupan masyarakat yang multietnik, multikultural, dan multiagama menjadi sebuah sebuah masyarakat yang berpradaban serta menjujung tinggi sikap toleransi.

Pada konteks ini, diperlukan adanya sikap saling hormat-menghormati dan tolong-menolong antara kaum pendatang dan pendukduk asli. Seperti sikap toleransi yang ditunjukkan oleh kaum Anshar di Madinah kepada kaum Muhajirin dari Mekah.

"Nah, sekarang kan sering muncul persoalan-persoalan dalam kehidupan soaial politik, yakni masyarakat mengalami ketegangan bahkan konflik sosial antara mereka yang pendatang dan penduduk lokal. Itu terjadi di beberapa tempat di Tanah Air kita," ujarnya.

Pada konteks yang lebih luas, lanjut Abdul, banyak makna yang bisa diambil dari peristiwa hijrah terkait dengan banyaknya persoalan-persoalan politik dilingkup global.

"Contohnya kaum imigran yang berasal dari kawasan negeri muslim yang kemudian tinggal di Eropa atau Amerika Serikat yang kerap mengalami persoalan-persoalan rasial yang menurut saya sangat bertentangan dengan semangat hijrah," ujarnya.

Karena itu, semangat sosial-politik dari hijrah atau masuknya tahun baru Hijriah adalah bagaimana setiap individu semakin menegaskan arti penting multikulturalisme dan dalam beberapa hal juga pluralisme keagamaan.

Karena masyarakat Madinah yang dibangun Nabi Muhammad adalah masyarakat yang terdiri dari berbagai unsur etnik dan keagamaan yang saling menghormati satu sama lainnnya.

"Seperti kaum muslimin, Yahudi, nasrani, kemudian juga banyak suku—suku yang berasal dari kalangan Muhajirin dan Anshar yang semuanya dalam Piagam Madinah itu disebut umat. Jadi dalam konteks ini, kata umat itulah yang mempersatukan perbedaan-perbedaan itu."

Masyarakat Madinah saat itu juga diikat dengan tanggung jawab sosial bagaimana menciptakan persaudaraan dan rasa aman dalam suatu masyarakat. "Inilah saya kira makna soaial-politik dari hijrah itu khususnya bagi umat Islam yang ada di Indonesia," terangnya.

Dalam kontek kenegaraan, makna hijrah adalah upaya membangun masyarakat atau warga negara yang berpradaban. "Seperti upaya bagaimana nabi membangun masyarakat Madinah sebagai masyarakat yang berpradaban," kata Abdul.

Pada konteks itu, lanjutnya, tentu saja diperlukan adanya kepemimpinan yang bisa memberikan rasa aman dan kepercayaan bagi semua lapisan masyarakat.

"Pemimpin juga harus tegas dalam menegakkan hukum dan aturan serta bisa menjadi teladan dalam menegakkan dan melaksanakan aturan itu," imbuhnya.

Selain itu, yang paling penting lainnya adalah bagaimana masyarakat secara kolektif meninggalkan kehidupan yang bertentangan dengan hukum, ilmu, dan agama.

"Saya kira prinsipnya kan itu. Sehingga hijrah dalam kontek ini pengertiannya adalah meninggalkan praktik-praktik kehidupan kolektif bertentangan dengan tiga hal tadi," pungkasnya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Please comment seperlunya, dan mohon untuk tidak disalahgunakan. Trima kasih!